Ekosistem Dakwah Zaman Modern: Dari Istiqomah Pribadi hingga Kaderisasi Ulama Global

Ekosistem Dakwah Zaman Modern: Dari Istiqomah Pribadi hingga Kaderisasi Ulama Global
Ekosistem Dakwah Zaman Modern: Dari Istiqomah Pribadi hingga Kaderisasi Ulama Global

JAGOK.CO - PEKANBARU - SELASA 06/05/2025.,

Oleh: Zulfikri Pohan – Wakil Ketua PBH NU Riau

Dakwah adalah napas utama peradaban Islam. Di era modern yang serba kompleks, dakwah tak bisa lagi berjalan secara sporadis atau simbolik. Ia harus dibangun sebagai sebuah ekosistem dakwah — hidup, terstruktur, dan adaptif terhadap perubahan sosial, hukum, ekonomi, dan teknologi. Karena itu, peta dakwah perlu disusun secara sistemik, bukan hanya berbasis personal, melainkan kelembagaan, kolaboratif, dan berkelanjutan.

Saya melihat setidaknya ada enam elemen utama dalam membangun ekosistem dakwah zaman modern:

1. Individu yang Istiqomah
Fondasi utama dakwah adalah pribadi yang istiqomah: teguh prinsip, sabar dalam ujian, dan konsisten dalam perjuangan — bahkan saat tak lagi disorot. Godaan popularitas, politisasi agama, hingga komersialisasi dakwah menjadi tantangan nyata saat ini. Maka, pendakwah masa kini harus tetap menjadi pelita umat: membimbing dengan keikhlasan dan kekuatan prinsip.

Allah SWT berfirman (QS. Fussilat: 30):
"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: 'Tuhan kami ialah Allah', kemudian mereka istiqomah, maka malaikat turun kepada mereka..."

Nabi Muhammad SAW bersabda:
"Katakanlah: Aku beriman kepada Allah, lalu istiqomahlah!" (HR. Muslim)

Kita bisa meneladani Imam Ahmad bin Hanbal, yang tetap kukuh menjaga akidah Ahlussunnah wal Jamaah meski mengalami tekanan dari penguasa.

2. Lembaga Dakwah yang Terstruktur dan Mengakar
Dakwah harus didukung kelembagaan yang kuat. Contoh konkret adalah PBH NU Riau, yang bukan sekadar lembaga advokasi hukum, tetapi juga dakwah bil hal: membela kaum tertindas, mendampingi masyarakat, dan memperjuangkan keadilan sosial. Lembaga dakwah seperti ini perlu hadir dari desa hingga pusat, agar dakwah menyentuh akar rumput dan tidak tersandera elitisasi.

3. Kepemimpinan Dakwah yang Visioner
Pemimpin dakwah harus alim, amanah, dan visioner. Ia harus mampu membaca zaman, mengelola perubahan, serta menjembatani nilai tradisional dengan tantangan modernitas. Kepemimpinan yang cerdas inilah yang akan menjaga arah dakwah tetap relevan dan kontekstual.

4. Kolaborasi Strategis dengan Dunia Usaha
Ekonomi adalah jantung kemandirian umat. Maka, dakwah harus berjejaring dengan dunia usaha — terutama sektor UMKM — melalui pelatihan, pendampingan, dan advokasi kebijakan ekonomi kerakyatan. Dakwah yang berpihak pada keadilan ekonomi akan membumi dan menyentuh kebutuhan nyata umat.

5. Kaderisasi Ulama Berwawasan Global
Dunia Islam kini menghadapi tantangan global: Islamofobia, krisis iklim, hingga era disrupsi digital. Kita butuh ulama yang mampu berdialog dengan Barat, bersuara di forum internasional, dan menawarkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Ini menuntut rekonstruksi kaderisasi yang kuat, berbasis pesantren, tapi bertaraf global.

6. Pengkaderan Melalui Pendidikan Berjenjang
Dakwah adalah proses pendidikan berkelanjutan: dari TPQ, madrasah, pesantren, hingga perguruan tinggi. Setiap jenjang harus menjadi ladang pengkaderan generasi dakwah yang unggul — baik secara spiritual, intelektual, maupun sosial.


Penutup
Dakwah di era modern menuntut pendekatan baru yang terintegrasi dan profesional. NU sebagai rumah besar Ahlussunnah wal Jamaah memiliki modal kultural dan struktural yang kuat untuk membangun ekosistem dakwah yang menjawab zaman. Semoga kita mampu menjaga nafas dakwah ini agar tetap segar, membumi, dan membimbing umat menuju peradaban yang berkeadilan.