FAO: 95% Lahan Pertanian Gaza Hancur Diserang Israel
FAO menyebut 95% lahan pertanian Gaza hancur akibat agresi Israel. Warga bertahan hidup dengan menanam di antara reruntuhan dan tenda pengungsian.
JAGOK.CO – GAZA, PALESTINA – Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) mengungkapkan kondisi mengenaskan sektor pertanian di Jalur Gaza akibat agresi militer Israel yang terus berlangsung tanpa henti. Dalam laporan resminya, FAO menegaskan bahwa lebih dari 95 persen lahan pertanian di Gaza kini tak lagi bisa digunakan. Hanya tersisa 4,6 persen lahan yang masih memungkinkan untuk bercocok tanam.
Kerusakan parah itu bukan hanya merusak sumber pangan utama masyarakat Palestina, namun juga mengancam masa depan ketahanan pangan regional. Gaza, yang selama ini bergantung pada pertanian lokal untuk menyuplai bahan pangan, kini berubah menjadi ladang kehancuran.
Wakil Direktur Jenderal sekaligus Perwakilan Regional FAO untuk Timur Dekat dan Afrika Utara, Abdulhakim Elwaer, menyatakan bahwa pihaknya tidak dapat mengirimkan sebutir benih pun ataupun sebungkus pupuk ke Gaza akibat blokade total Israel yang masih diberlakukan hingga saat ini.
“Kami tetap bersiap siaga untuk bertindak segera begitu jalur bantuan kemanusiaan kembali terbuka. Sementara itu, kami tengah mengeksplorasi berbagai pendekatan alternatif demi memberikan dukungan langsung kepada para petani Gaza. Ini adalah langkah krusial dalam memperkuat ketahanan pangan masyarakat yang kini hidup dalam keterbatasan ekstrem,” ujarnya.
Dalam analisis FAO Maret lalu, kehancuran infrastruktur pertanian—mulai dari ladang, saluran irigasi, rumah kaca, hingga jaringan distribusi—ditambah dengan pemboman tanpa henti, membuat sebagian besar tanah menjadi tidak dapat ditanami. Warga yang masih bisa mengakses lahan pun hanya mampu menanam sayuran di antara tenda-tenda pengungsi atau bahkan di atas puing-puing rumah mereka yang telah rata dengan tanah.
Bertani dari Nol, Bertahan dengan Harapan
Dalam kondisi darurat yang kian memburuk, FAO mencatat telah memulai upaya kecil namun bermakna: membantu sekitar 200 petani di wilayah Rafah dan Khan Younis untuk mengoptimalkan sisa lahan pertanian guna menanam tanaman pangan pokok yang mendesak.
Direktur Program FAO untuk Tepi Barat dan Gaza, Dr. Azzam Saleh, menegaskan bahwa harapan pemulihan dimulai dari akar rumput—yakni para petani lokal sendiri. Menurutnya, mereka adalah ujung tombak kedaulatan pangan Palestina di tengah badai perang dan blokade.
“Dalam situasi genting seperti di Gaza, titik awal terbaik bukan pada bantuan besar, melainkan pada semangat bertahan petani itu sendiri. Mereka punya pengetahuan teknis, keterampilan tradisional, dan daya adaptasi luar biasa untuk bertani bahkan di bawah bayang-bayang kehancuran,” ujarnya.
Program percontohan FAO menunjukkan bagaimana petani Gaza mampu mengelola setiap jengkal tanah, mengefisienkan setiap tetes air, dan memaksimalkan setiap sen sumber daya yang tersisa. Namun demikian, FAO juga mengingatkan agar publik tidak terjebak pada harapan semu. Tanpa gencatan senjata berkelanjutan dan akses kemanusiaan yang bebas hambatan, dampak dari program kecil ini tetap sangat terbatas.
Blokade, Bantuan Dihambat, Rakyat Ditembak
Sejak 2 Maret 2024, seluruh jalur perlintasan ke Gaza ditutup total oleh militer Israel. Ratusan truk bantuan dari komunitas internasional tertahan di perbatasan, sementara warga di Gaza hanya menerima puluhan truk per hari, jauh dari kebutuhan minimal 500 truk per hari.
Di luar jalur resmi PBB dan lembaga kemanusiaan, Israel dan Amerika Serikat sejak 27 Mei 2024 memprakarsai skema distribusi bantuan lewat lembaga bernama “Humanitarian Gaza Foundation”. Namun kenyataannya, alih-alih memperlancar bantuan, militer Israel justru menembaki kerumunan warga yang tengah mengantre bantuan, menyebabkan tragedi berulang dan pilihan kejam bagi warga: meninggal karena lapar, atau tewas karena peluru.
Kementerian Kesehatan Gaza mencatat hingga Ahad kemarin, sedikitnya 583 warga sipil tewas dan lebih dari 4.000 lainnya luka-luka saat mencoba mengakses bantuan pangan.
Genosida yang Nyata, Dunia yang Bungkam
Sejak pecahnya agresi Israel pada 7 Oktober 2023, korban jiwa terus bertambah. Data resmi menyebutkan lebih dari 57.000 warga Palestina tewas, 134.000 lebih terluka, dan lebih dari 11.000 lainnya masih dinyatakan hilang.
Agresi ini tidak hanya mencakup pembunuhan massal, penghancuran sistematis infrastruktur sipil, pengepungan wilayah, hingga pengusiran paksa penduduk. Sejumlah lembaga hak asasi manusia dan pakar hukum internasional menyebut rangkaian tindakan ini sebagai bentuk genosida yang terang-terangan.
Gaza kini tak lagi sekadar wilayah konflik. Ia telah menjelma menjadi simbol penderitaan kolektif umat manusia, tempat di mana petani bertani di atas puing, anak-anak kelaparan dalam tenda, dan dunia menatap dengan diam.























