Elite Arab dan Genosida Gaza: Studi Al Jazeera Bongkar Fakta Mengejutkan
Studi Al Jazeera mengungkap lemahnya respons elite Arab terhadap genosida Israel di Gaza. Temuan mengkritisi keterlibatan politik, media, dan budaya elite dalam perjuangan Palestina.
JAGOK.CO – TIMUR TENGAH – Agresi militer brutal yang dilancarkan Israel atas Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023, yang kini mengarah pada pola genosida sistematis terhadap rakyat Palestina, telah memantik pertanyaan mendalam tentang posisi, keberanian moral, dan efektivitas elite dunia Arab dalam menghadapi tragedi kemanusiaan ini.
Pertanyaan utama yang muncul adalah: Di mana peran nyata aktor-aktor politik, lembaga negara-negara Arab, organisasi masyarakat sipil, partai politik, tokoh pemikir, dan elite intelektual kawasan dalam merespons genosida Gaza? Apakah mereka bersikap aktif, atau justru kehilangan arah?
Dalam edisi keenam Majalah Al Jazeera untuk Kajian Komunikasi dan Media, terbitan Al Jazeera Center for Studies, dipublikasikan sebuah studi komprehensif oleh Dr. Abdel Hakim Ahmin yang berjudul "Efektivitas Peran Elite Arab dalam Perang Israel atas Gaza dan Prioritas Perjuangan Palestina (2023–2025)".
Studi tersebut membedah secara kritis bagaimana bentuk, intensitas, dan dimensi keterlibatan elite Arab dalam menghadapi dampak invasi Israel atas Gaza. Penelitian ini diluncurkan dalam forum ilmiah internasional bertajuk "Jurnalisme Investigatif dan Metodologi Ilmiah dalam Peliputan Perang dan Konflik" di Universitas Sidi Mohamed Ben Abdellah, Fez, Maroko, pada 4–5 Desember 2024.
Ketika Genosida Menguji Komitmen Elite Arab
Penulis menekankan, keterlibatan elite Arab menjadi sangat penting di tengah realitas kelam: Israel menggencarkan pengepungan total atas Gaza, menghancurkan infrastruktur sipil, dan melakukan pemaksaan eksodus massal terhadap warga Palestina—semua ini dibarengi dengan kegagalan komunitas internasional untuk menghentikan aksi genosida tersebut.
Israel tetap menerima dukungan menyeluruh dari negara-negara Barat—baik dalam bentuk senjata, dana, diplomasi, maupun perang narasi di media. Tahapan pembantaian pun makin ekstrem: kelaparan dijadikan senjata, air bersih diputus, layanan medis dihancurkan—seluruhnya menyasar ketahanan fisik dan psikis masyarakat Gaza.
Narasi Perlawanan dan Peran Strategis Elite
Krisis kemanusiaan ini melahirkan kembali pertanyaan mendasar mengenai kehadiran dan efektivitas elite Arab. Di Palestina, elite dari berbagai bidang—politik, militer, kesehatan, media—menyumbangkan peran vital dalam melawan penjajahan, baik secara fisik maupun melalui medan perang informasi.
Sosok Abu Ubaida, juru bicara Brigade Al-Qassam, muncul sebagai simbol global yang menyuarakan perlawanan Palestina, mengisi kekosongan narasi akibat embargo media internasional atas Gaza.
Sementara itu, elite Israel juga memainkan strategi komunikasi agresif untuk melegitimasi tindakan genosida. Di sisi lain, komunitas internasional—termasuk PBB, pengadilan internasional, LSM, universitas, dan media alternatif—ikut menyuarakan perlawanan moral terhadap kekejaman tersebut.
Dalam lanskap darurat semacam ini, elite Arab seharusnya tidak hanya menjadi aktor retoris, melainkan penggerak perubahan kebijakan, penyatu harapan masyarakat, dan katalis perjuangan pembebasan Palestina.
Tantangan Politik dan Krisis Kepemimpinan Elite Arab
Namun, sebagaimana digambarkan dalam studi Dr. Ahmin, keterbatasan elite Arab sangat dipengaruhi oleh kegagalan transisi demokrasi pasca-Arab Spring. Sejak 2013, gelombang kontra-revolusi mengokohkan sistem otoritarianisme, menutup ruang publik, dan menggantikan demokrasi dengan kendali aparat keamanan.
Kondisi ini mendistorsi peran elite. Sebagian menyatu dengan kekuasaan dan menekankan narasi “urusan domestik lebih prioritas.” Sebagian lain justru menghindar dari isu nasional dan memilih diam. Tak sedikit pula yang menjadi korban represi digital, dikriminalisasi, bahkan ditahan akibat keterlibatan mereka dalam aksi protes atau kritik terhadap rezim.
Ironisnya, saat serangan Thaufan Al-Aqsha meletus pada 7 Oktober 2023—yang memicu eskalasi masif dari militer Israel—barulah kesadaran kolektif elite Arab mulai muncul. Banyak dari mereka akhirnya menyatakan sikap melalui aksi simbolik, advokasi, diplomasi sipil, hingga kampanye digital.
Temuan Kunci Studi Al Jazeera: Peran Elite Masih Lemah dan Terfragmentasi
Penelitian ini menyuguhkan temuan krusial yang membongkar kualitas dan kelemahan peran elite Arab dalam konteks perjuangan Gaza dan pembebasan Palestina.
Pertama, teori peran menjadi kunci dalam memahami dinamika elite—bagaimana individu, kelompok, dan institusi menjalankan tanggung jawab mereka dalam isu perang, kemanusiaan, dan hak rakyat Palestina.
Kedua, hasil kuesioner menunjukkan 64% responden menilai elite Arab menunjukkan respons positif dalam bidang budaya, media, dan HAM. Sebanyak 59% menyatakan bahwa mereka memproduksi karya-karya kritis lintas bidang, dan 65% menganggap elite turut berkontribusi dalam analisis konflik.
Namun demikian, hanya 36% yang menilai elite Arab mampu menawarkan tindakan konkret dan strategis.
Mayoritas responden menyuarakan ketidakpuasan terhadap kemampuan elite dalam menyatukan narasi, merumuskan strategi bersama, dan mengangkat suara rakyat Arab dalam isu Palestina.
Ketiga, meskipun ada kepuasan atas kerja elite di bidang budaya, media, dan HAM, aspek ini justru ditempatkan pada prioritas rendah oleh responden karena dianggap telah berjalan relatif baik.
Keempat, kelemahan terbesar terletak pada ketidakmampuan elite membangun visi pembebasan Palestina yang inklusif dan terkoordinasi dengan rakyat Palestina sendiri. Upaya menyelesaikan perpecahan internal Palestina pun dinilai belum maksimal.
Kelima, sebanyak 93% responden meyakini bahwa konflik politik antarnegara Arab sangat memengaruhi sikap elite terhadap isu Gaza. Kedekatan elite dengan rezim otoriter dan media negara semakin memperdalam polarisasi di antara mereka sendiri.
Sebanyak 77% juga menilai elite Arab belum berhasil merumuskan alternatif strategi perjuangan di luar dua poros utama: perlawanan bersenjata dan diplomasi formal.
Menuju Strategi Perjuangan yang Berkeadilan dan Berbasis Rakyat
Kesimpulan studi ini menggambarkan urgensi rekonstruksi peran elite Arab: dari sekadar aktor simbolik menjadi pelaku aktif dalam menyusun narasi alternatif, mendobrak stagnasi geopolitik, dan memperjuangkan keadilan untuk Palestina secara jangka panjang.
Ke depan, kerja-kerja strategis elite Arab harus melampaui batas negara dan ideologi politik. Mereka harus mampu menyatukan kekuatan moral, budaya, dan keilmuan dalam satu visi besar: membebaskan Palestina dari pendudukan, sekaligus membebaskan kawasan Arab dari cengkeraman normalisasi yang menyesatkan.























