PLT Bupati Muklisin Jadi Timboruang, Setda Kuansing Runner Up Pacu Jalur

PLT Bupati Kuansing H. Muklisin ikut menjadi timboruang dalam Pacu Jalur Eksibisi 2026. Jalur Setda Kuansing meraih posisi runner up.

PLT Bupati Muklisin Jadi Timboruang, Setda Kuansing Runner Up Pacu Jalur
PLT Bupati Muklisin Jadi Timboruang, Setda Kuansing Raih Runner Up Pacu Jalur Eksibisi

TELUK KUANTAN, JAGOK.CO — Semangat tradisi dan adrenalin persaingan berpadu dalam Pacu Jalur Eksibisi di Tepian Narosa, Teluk Kuantan, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Sabtu (22/8/2026) pagi. Ajang yang mempertemukan sejumlah jalur pilihan tersebut berlangsung meriah dan mendapat perhatian masyarakat.

Ada pemandangan berbeda dalam perhelatan kali ini. Pelaksana Tugas (PLT) Bupati Kuantan Singingi, H. Muklisin, tidak hanya hadir sebagai kepala daerah yang menyaksikan jalannya perlombaan dari tepian arena. Ia memilih turun langsung ke dalam jalur dan menjadi timboruang, sebutan bagi salah satu bagian dari anak pacuan yang berada di dalam jalur.

Keputusan H. Muklisin untuk ikut mendayung bersama anak pacuan menjadi salah satu momen yang mencuri perhatian. Kehadiran orang nomor satu di Kabupaten Kuansing tersebut memperlihatkan bentuk kedekatan pemerintah daerah dengan masyarakat sekaligus penghormatan terhadap Pacu Jalur sebagai warisan budaya dan identitas masyarakat Kuantan Singingi.

Dengan berada langsung di dalam jalur, H. Muklisin turut merasakan atmosfer perjuangan yang selama ini menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi Pacu Jalur. Bukan sekadar menyaksikan dari tribun atau tepian sungai, ia memilih berada di tengah barisan anak pacuan, menyatu dengan semangat kolektif yang menjadi kekuatan utama dalam setiap perlombaan.

Dalam daftar peserta Pacu Jalur Eksibisi Kabupaten Kuantan Singingi Tahun 2026, terdapat tiga jalur yang ambil bagian. Ketiganya yakni Jalur Bhayangkara Polda Riau, Jalur Tuah Sakti Negeri Lanal Dumai, dan Jalur Setda Kuansing.

Sejak perlombaan dimulai, masing-masing jalur menunjukkan kemampuan terbaiknya. Anak pacuan mengerahkan tenaga dan kekompakan untuk membawa jalurnya melaju di atas lintasan Tepian Narosa. Persaingan berlangsung dalam suasana kompetitif, namun tetap dibalut semangat olahraga, kebersamaan, dan pelestarian budaya.

Hasil akhir menempatkan Jalur Bhayangkara Polda Riau sebagai Juara I. Sementara itu, Jalur Setda Kuansing berhasil meraih Juara II atau runner up, sedangkan Jalur Tuah Sakti Negeri Lanal Dumai menempati posisi Juara III.

Bagi Jalur Setda Kuansing, capaian tersebut menjadi hasil yang patut diapresiasi. Jalur tersebut mampu menunjukkan performa impresif hingga melaju ke babak penentuan sebelum akhirnya harus mengakui keunggulan Jalur Bhayangkara Polda Riau yang tampil sebagai juara pertama.

Meski belum berhasil membawa pulang gelar juara pertama, posisi runner up menjadi capaian penting bagi Jalur Setda Kuansing. Terlebih, keikutsertaan tersebut tidak hanya membawa nama institusi pemerintahan daerah, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkuat semangat kebersamaan dalam menjaga tradisi Pacu Jalur.

Kehadiran H. Muklisin sebagai timboruang pun menjadi cerita tersendiri di tengah perlombaan. Masyarakat dan para anak pacuan tampak memberikan perhatian terhadap sosok PLT Bupati yang memilih turun langsung ke arena dan membaur bersama mereka.

Salah seorang anak pacuan Jalur Setda Kuansing, Yospendra, warga Beringin Taluk, mengaku senang dapat melihat langsung sosok PLT Bupati ikut berada di dalam jalur.

“Saya merasa bahagia, ternyata Pak PLT Bupati orangnya asik, ramah juga. Beliau bisa membaur dan ikut merasakan langsung bagaimana rasanya menjadi anak pacuan,” ujar Yospendra.

Menurut Yospendra, kehadiran kepala daerah secara langsung bersama anak pacuan memberikan suasana tersendiri. Bagi para peserta, keterlibatan tersebut dinilai bukan hanya menjadi bentuk dukungan moral, tetapi juga menunjukkan bahwa pemerintah daerah hadir bersama masyarakat dalam menjaga tradisi yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Sementara itu, H. Muklisin mengatakan keikutsertaannya sebagai timboruang merupakan bentuk dukungan sekaligus kecintaannya terhadap tradisi Pacu Jalur yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Kuantan Singingi.

“Pacu Jalur ini bukan hanya perlombaan, tapi bagian dari budaya dan jati diri masyarakat Kuansing. Saya sangat senang bisa ikut langsung bersama anak-anak pacuan. Kita ingin tradisi ini terus kita jaga, kita lestarikan dan kita kenalkan semakin luas,” ungkap H. Muklisin.

Ia menegaskan bahwa keberadaan Pacu Jalur memiliki makna yang jauh lebih luas dibandingkan sekadar kompetisi untuk menentukan siapa yang tercepat di lintasan. Di balik setiap jalur dan perjuangan anak pacuan, terdapat nilai kebersamaan, kekompakan, kerja keras, sportivitas serta semangat gotong royong yang menjadi karakter kuat masyarakat Kuansing.

Menurutnya, sinergi antara pemerintah daerah, masyarakat, anak pacuan, tokoh masyarakat, serta seluruh pihak yang memiliki kepedulian terhadap kebudayaan menjadi kekuatan penting dalam memastikan tradisi Pacu Jalur tetap hidup dan berkembang.

Pelestarian tersebut, kata dia, tidak cukup hanya dilakukan melalui penyelenggaraan perlombaan. Lebih dari itu, diperlukan keterlibatan berbagai elemen masyarakat agar generasi muda mengenal, mencintai, serta memiliki rasa tanggung jawab untuk meneruskan tradisi tersebut di masa mendatang.

Dalam konteks itu, keterlibatan langsung kepala daerah di tengah anak pacuan menjadi simbol bahwa pelestarian budaya membutuhkan kebersamaan. Pemerintah tidak hanya berperan sebagai penyelenggara atau pendukung kegiatan, tetapi juga dapat hadir dan merasakan langsung semangat masyarakat yang menjadi bagian dari tradisi tersebut.

Sementara bagi Jalur Setda Kuansing, raihan Juara II atau runner up dalam Pacu Jalur Eksibisi 2026 tetap menjadi kebanggaan tersendiri. Perjalanan hingga partai penentuan menunjukkan bahwa jalur tersebut mampu bersaing dalam kompetisi yang mempertemukan jalur dari berbagai unsur.

Lebih dari hasil akhir perlombaan, Pacu Jalur Eksibisi di Tepian Narosa kembali memperlihatkan bahwa tradisi yang lahir dari masyarakat Kuantan Singingi tersebut memiliki daya tarik yang kuat. Di atas lintasan, para anak pacuan mempertaruhkan tenaga dan kekompakan; sementara di tepian, masyarakat menyatukan dukungan dalam sebuah perayaan budaya yang sarat nilai kebersamaan.

Momen H. Muklisin menjadi timboruang pun menambah warna tersendiri dalam gelaran tersebut. Ia tidak hanya hadir sebagai pejabat daerah, tetapi juga mengambil bagian dalam denyut perjuangan anak pacuan.

Pada akhirnya, Pacu Jalur bukan semata-mata tentang siapa yang menjadi juara dan siapa yang harus puas berada di posisi berikutnya. Tradisi tersebut merupakan ruang perjumpaan antara budaya, masyarakat, pemerintah, generasi muda dan semangat kebersamaan.

Dan di Tepian Narosa, semangat itu kembali mengalir bersama derasnya pacuan jalur—menegaskan bahwa warisan budaya Kuansing bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan identitas yang terus hidup, bergerak, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.