Gempuran Israel Tewaskan 78 Warga Gaza dalam Sehari

Serangan udara Israel di Gaza menewaskan 78 warga Palestina, termasuk perempuan dan anak-anak. Rumah sakit penuh, Mahkamah Internasional abaikan.

Gempuran Israel Tewaskan 78 Warga Gaza dalam Sehari
Jenazah para syuhada di Rumah Sakit Nasser di Khan Yunis kemarin, Sabtu (Sumber: Aljazeera.net)

JAGOK.CO – GAZA, PALESTINA – Lima warga Palestina kembali gugur syahid dan puluhan lainnya mengalami luka-luka akibat serangan brutal udara yang dilancarkan oleh militer pendudukan Israel pada Sabtu malam hingga Ahad dini hari, 6-7 Juli 2025. Serangan menyasar kawasan padat penduduk di bagian utara dan selatan Jalur Gaza, menambah panjang daftar korban jiwa di hari yang kembali dicatat sejarah sebagai salah satu hari paling berdarah dalam agresi militer Zionis.

Berdasarkan laporan medis dari Rumah Sakit Baptis, Kota Gaza, tiga warga sipil Palestina tewas seketika ketika rudal Israel menghantam sebuah apartemen di lingkungan At-Tuffah, wilayah timur Gaza City. Apartemen tersebut diketahui menjadi tempat perlindungan sementara bagi sejumlah keluarga pengungsi.

Sementara itu, jurnalis lapangan Al Jazeera melaporkan bahwa wilayah Syujaiyah di timur Gaza juga digempur secara intensif oleh artileri berat dan drone tempur, menunjukkan pola serangan gabungan yang sistematis dan destruktif dari militer Israel.

Di wilayah utara Kota Gaza, serangan mematikan terhadap kawasan permukiman warga di lingkungan Syaikh Radwan menyebabkan jatuhnya korban jiwa dan luka berat. Rumah Sakit Asy-Syifa melaporkan puluhan pasien dilarikan dalam kondisi kritis, sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak.

Di wilayah selatan Jalur Gaza, kekejaman terus berlangsung. Drone-drone militer Israel menyerang area pengungsian di Al-Mawasi, sebelah barat Khan Younis, sebuah zona yang sebelumnya dinyatakan “aman” oleh pasukan Israel. Serangan keji ini menyebabkan dua warga sipil tewas dan sejumlah lainnya mengalami luka serius. Informasi ini dikonfirmasi oleh tim medis di Rumah Sakit Nasser.

Rentetan serangan yang dilancarkan selama 24 jam terakhir tercatat telah menewaskan setidaknya 78 warga Palestina di berbagai wilayah Jalur Gaza. Kementerian Kesehatan Gaza menyampaikan bahwa dalam kurun waktu satu hari, rumah-rumah sakit di seluruh Gaza menerima 70 jenazah dan 332 orang luka-luka. Jumlah ini diperkirakan masih akan bertambah karena banyak korban tertimbun di bawah reruntuhan bangunan yang hancur.

Dalam laporan resmi harian, Kementerian Kesehatan Gaza mencatat bahwa sejak dimulainya agresi militer Israel pada 7 Oktober 2023, total korban jiwa telah mencapai 57.338 orang, dengan 135.957 lainnya mengalami luka-luka, sebagian besar adalah perempuan, anak-anak, dan warga lanjut usia.

Serangan demi serangan yang dilakukan Israel, dengan dukungan penuh dari Amerika Serikat, dinilai oleh berbagai pihak sebagai bentuk genosida sistematis terhadap rakyat Palestina. Bentuk kekejaman ini tidak hanya berupa pembantaian massal, tetapi juga mencakup pengepungan total yang menyebabkan kelaparan, kehancuran fasilitas kesehatan, penghancuran sistem air bersih, pemboman kamp pengungsian, serta pengusiran paksa terhadap warga sipil yang tidak berdaya.

Ironisnya, seluruh tindakan ini dilakukan dengan terang-terangan mengabaikan tekanan komunitas internasional serta perintah dari Mahkamah Internasional (ICJ) yang telah menuntut agar kekerasan segera dihentikan dan akses kemanusiaan dibuka secara penuh ke wilayah Gaza.

Tragedi kemanusiaan ini menunjukkan bahwa Israel tidak hanya sedang melakukan agresi militer, tetapi juga sedang merobek tatanan hukum internasional, menginjak-injak nilai-nilai kemanusiaan, serta menantang nurani global di depan mata dunia.